Radar Jogja – Rubric Opinion

RSBI dan Eksistensinya

            Rintisan Sekolah Berstandar Internasional atau yang biasa disebut RSBI tentu sudah tak asing lagi bagi para masyarakat pada umumnya. Sekolah yang sudah mendapat predikat ini tentu sangat berbangga diri atas kategori yang tidak semua sekolah bisa raih. Untuk mendapatkan golongan sebagai sekolah dengan Standar Internasional atau berbasis bilingual tentu tidak mudah. Prestasi sekolah dan standar nilai murid selama beberapa periode yang menjadi acuan. Tapi ini saja baru mendapatkan predikat Rancangan SBI, belum SBI yang sebenarnya.

Berbekal predikat RSBI, baik SMP ataupun SMA sanggup mencuri banyak sekali hati masyarakat, terutama pelajar. Sekolah-sekolah tersebut menggembar-gemborkan predikat yang sebenarnya hanya kamuflase saja. Penulis menyebutkan kamuflase karena banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan maksud standar bilingual sebenarnya.

Mulai dari  sistem tes seleksi saat Pendaftaran Siswa Baru. Tanpa bermaksud menyebutkan atau membuat image buruk untuk sekolah ini, penulis mempunyai pengalaman mencoba tes seleksi PSB di salah satu sekolah RSBI. Tes yang dilakukan disana sangat tidak profesional dan kalau bisa dikatakan cukup buruk. Sebagai sekolah bilingual tentu sekolah tersebut menekankan kemampuan Bahasa Inggris yang cukup kuat bagi para calon siswa. Karena tentu saja mereka akan dijejali pelajaran dengan guru-guru yang memakai bahasa Inggris menurut sekolah tersebut. Tapi pada kenyatannya tes bahasa Inggris hanya sebagai formalitas disana. Tidak ada tes yang benar-benar bertujuan melihat kemampuan siswa. Hal ini tentu menunjukkan bahwa sistem tes tidak benr-benar mencari bibit unggul. Ada juga sekolah RSBI lain yang penulis bisa bilang hanya sebagai buangan dari calon siswa yang tidak diterima dri sekolh SSN yang menggunakan sistem penyisihan menggunakal nilai akhir UASBN.

Di sisi lain, masyarakat ternyata  sudah banyak yang buta atas definisi sekolah yang benar-benar baik dan berkualitas. Masuk SMA atau SMP berstandar Internasional ternyata cukup membuat sebagian masyarakat terbuai oleh kehebatan kamuflase yang dipublikasikan oleh RSBI. Sebagian masyarakat menjadi merasa bergengsi jika anak mereka menjadi murid dari sekolah bertitle RSBI. Hal tersebut akhirnya mampu membuat mereka tidak menyadari bahwa anak-anak mereka akan dididik oleh guru-guru yang sebenarnya belum cukup mampu berbahasa Inggris. Tentu saja hal ini tak disia-siakan oleh para pengurus sekolah. Diatas harapan calon siswa baru yang berambisi bisa bersekolah di sekolah RSBI, mereka mematok harga diri yang cukup tinggi dengan biaya masuk yang selangit. Biaya tersebut belum terhitung biaya bulanan sekolah, biaya kegiatan tahunan, dan biaya gedung yang memang dua kali lipat dari sekolah berstandar nasional.

Sekolah-sekolah ini memang sekolah negeri, tapi mereka sudah berpredikat RSBI, jadi tak salah dan tak melanggar hukum sama sekali jika mereka menarik biaya yang sangat mahal karena itulah hak istimewa sekolah RSBI, dapat menentukan biaya yang ditarik dari siswanya dengan kebijakan mereka sendiri, tanpa campur tangan pemerintah daerah.

Kemudian ironisnya banyak sekali oknum masyarakat yang juga curi-curi kesempatan untuk menunjukkan kehebatan mereka bersekolah di RSBI. Dengan apalagi kalau bukan suap. Banyak sekali anggota masyarakat menengah keatas yang bisa dikatakan memaksa anak mereka untuk masuk ke sekolah RSBI. Padahal sangat jelas bahwa nilai mereka tidak cukup berkompeten untuk bersaing masuk RSBI. Tak perlu ditanya pihak sekolah menerima siswa ini atau tidak karena sudah banyak kasus seperti ini terjadi di beberapa sekolah bertitle RSBI yang ada di kota dimana penulis tinggal. Walaupun banyak anggapan neegatif dari masyarakat sendiri namun tetap saja, sekolah-sekolah ini mempunyai aura yang luar biasa hebatnya hingga menarik banyak sekali minat para calon siswa SMA ataupun SMP.

Tak akan jadi heran jika fasilitas pendidikan yang disediakan akan se-eksklusif biaya yang dikeluarkan, namun sayangnya seperti yang penulis katakan tadi bahwa banyak dari guru sekolah RSBI yang sebenarnya belum siap sebagai tenaga didik bilingual yang dibutuhkan oleh sekolah RSBI. Pada kenyataannya banyak sekali guru yang masih sangat dominan menggunakan bahasa Indonesia saat KBM berlangsung padahal buku acuan pelajaran menggunakan Bahasa Inggris. Tentu saja hal ini sangat tak sesuai dengan maksud sekolah dengan standar dwibahasa yang semestinya.

Sistem seleksi yang dilakukan RSBI pun terkesan matre yaitu denganmemadukan hasil nilai seleksi dengan jumlah biaya yang siap dikeluarkan orang tua calon siswa sesuai dengan kesepakatan dengan pihak sekolah saat tes wawancara wali murid. Akhirnya , siswa dengan potensi yang terbilang standar bahkan dibawahnya bisa masuk sekolah ini dengan biaya yang pastinya tak biasa. Tapi bagi siswa dengan potensi tak istimewa tentu akan dieliminasi jika ia tak mau cuma-cuma mengeluarkan biaya bagi sekolah. Dengan kata lain, siswa tersebut harus benar-benar cerdas dan berprestasi jika ia ingin mendapat biaya khusus, yaitu biaya yang jauh lebih murah dari siswa lainnya.

Selalu ada dalih yang dikeluarkan oleh sekolah RSBI untuk membuat paradigma positif kepada masyarakat, namun tetap saja pada akhirnya masyarakat sendirilah yang menentukan pilihan dan bagaimana cara mereka akan mendapat pendidikan yang layak. Tetapi satu hal yang harus diperhatikan, sekolah RSBI akan tetap bertambah seiring dengan sambutan yang baik dari masyarakat.

OLEH : ARIN ANASTASYAH SUKMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s