Cerita Pendek Tahun Lalu

Aku adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang sangat biasa. Ya, tak ada yang menarik dari diriku. Tidak cantik, tidak pintar dan tidak punya bakat apapun. Tapi bagaimanapun aku, inilah kisahku.

###

            Apa pantas seorang gadis menyukai laki-laki? Apa pantas jika seorang gadis mendekati laki-laki yang dicintainya dan berusaha membuat laki-laki itu jatuh cinta padanya seperti yang biasa dilakukan seorang pria kepada wanita yang dicintainya?

Pikiran-pikiran itu terngiang selalu di otakku seperti dengungan seekor nyamuk yang sedang mencari mangsa untuk menggigit korbannya. Aku merasa malu telah suka padanya, aku merasa sebagai wanita murahan yang ingin mendapat perhatian darinya. Aku ragu dengan perasaanku sendiri. Aku juga bingung kenapa harus menyukainya.

Rangga, anak laki-laki sederhana yang telah menguras pikiranku selama ini. Aku menyukainya sejak kami les bahasa Inggris ditempat yang sama. Alasan aku menyukainya hanyalah simpel, dia orang yang sederhana. Aku sangat suka orang sederhana dan menerima dirinya apa adanya. Nggak seperti cowok sekarang yang bisanya pamer lewat kekayaan orang tuanya, motor keren, hape mahal, sama sekali nggak bisa dibilang cowok bagiku. Selain itu, Rangga juga pintar, intelek, dan nyambung setiap diajak ngomong. Akhirnya, rasa itu mulai tumbuh dihatiku. Terlihat konyol, tapi aku yakin dia adalah cinta pertamaku.

Selama ini, semuanya hanya rahasia hatiku. Aku tak berani mengungkapkannya kepada orang lain, termasuk Risa sahabatku. Aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Lagi-lagi hanya takut kalau-kalau dianggap tak pantas dan memalukan oleh Rita, walaupun sebagai sahabat tidak mungkin dia akan berkata seperti itu.

***

            Hari ini Rabu dan hari yang sangat menyenangkan. Karena nanti sore aku akan bertemu Rangga. Aku akan siap-siap dibuat kagum olehnya. Kagum oleh kepintarannya terutama. Aku suka gayanya yang santai dalam berbicara dan menjawab pertanyaan dari para tentor disana. Dengan wajah innocent pula ia menyepeda dari sekolah.

Di sekolah kami mempunyai jadwal les yang sama dengan jadwal les bahasa inggris, dan selisih waktunya hanya 30 menit. Jadi tidak ada waktu untuk istirahat sama sekali. Aku yang dijemput, langsung menuju ketempat les bahasa Inggris setelah pulang sekolah tanpa makan ataupun ganti baju dirumah. Sedangkan Rangga yang bersepeda, juga langsung menuju ketepat les, bedanya dia bersepeda bukan naik motor seperti aku. Padahal, jarak dari sekolah ketempat les kurang lebih 10 km. Bagiku, itu sudah sangat luar biasa. Dilihat dari anak laki-laki seusianya yang pastinya lebih memilih naik sepeda motor daripada bersepada sejauh 10 km dalam waktu 30 menit.

Suatu hari aku pernah bertanya kepadanya “Rangga, emang nggak capek naik sepeda terus?”

Lalu ia menjawab dengan tersenyum “enggak, sehat dan bebas polusi kok”

“kalau aku jadi kamu, mungkin kakiku sudah remuk naik sepeda dan pulang sampai sore”

“kalau sudah niat dan semangat, semua pasti jadi mudah dan menyenangkan. Coba saja, nggak ada salahnya lho” jawabnya dengan nada yang sangat ceria.

“yah, kapan-kapan saja deh, haha” aku menjawabnya dengan sok cuek. Padahal sebenarnya senang sekali bisa ngobrol dengan Rangga walaupun hanya hal-hal yang sangat sepele.

***

            Siang itu seperti biasa aku pergi ke kantin bersama Risa. Tapi entah kenaepa aku melihat ada yang aneh dengannya hari itu. Risa terlihat senyum-senyum  sendiri ketika melihat SMS yang ada di hapenya.

“kenapa sih, Sa? Dapet SMS dari siapa sampai senyum-senyum begitu?” tanyaku

“eh, enggak kok. Bukan dari siapa-siapa.” Jawabnya agak gugup.

“hayoo, pacar baru ya? Kok nggak cerit-cerita sih. liat sini hapemu!” aku berusaha merebut hape Risa tapi cepat-cepat ia menangkis tanganku dan memasukkan hape itu ke sakunya. Alhasil, aku tak bisa menangkapnya.

“eitts! Nggak bisa! Hahaha” Risa menjawabku dengan tawa yang membuat sangat penasaran.

“lhoo kan sekarang kamu gitu yaa. Teman sendiri nggak dikasih tau. Jahaat ah!” kataku dengan nada merajuk.

“emm kasih tau nggak yaa. Kasih tau nggak yaa.. nanti saja ya kalau sudah pasti dan jelas hehe” jawab Risa dengan ringan

“ya sudahlahh kalau gitu. Jangan lupa cerita lho  pokoknya!”

“ia iya cerewet” Risa berkata sambil berlari dan tertawa

“hey hey sini kamu” aku berusaha mengejarnya.

Kemudian kami menuju kantin sambil tertawa bersama

***

            Karena terlalu penasaran, aku membuka inbox yang ada di hape Risa kebetulan dia sedang menitiplkan hape itu kepadaku karena ia sedang berwudhu. Sudah seminggu dan ia belum juga cerita kepadaku. Saata aku membukanya, aku melihat SMS dari kontak yang bernama “Rangga”. Spontan aku sangat kaget. Lalu aku membuka SMS itu satu per satu. Terlihat dari pesan itu bahwa si “Rangga” sedang mendekati Risa. Tapi belum ada tanda kalau mereka sudah pacaran. Jadi mengkin si “Ranagga” ini hanyalah gebetan Risa.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada Rangga, seseorang yang akui taksir. Apa mungkin ini adalah Rangga yang sama? Walaupun ada satu juta nama Rangga didunia ini. Tapi aku langsung lemas memikirkan kemingkinan bahwa mungkin ini adalah Rangga yang sama. Bagaimana  mungkin mereka bisa saling kenal? Aku selama ini tak pernah melihat mereka mengobrol di sekolah. Seperti mimpi buruk jika pikiranku itu tadi terjadi. Pastinya aku akan hancur karena 2 orang itu.

Pelan-pelan kucoba tenang dan merenung. Pasti akan ada kemungkinan buruk dan baik dalam segala hal. Begitu pula dengan ini. Kemungkinan ini bukan Rangga yang sama, karena setahuku mereka memang tidak saling mengenal, jadi ada kemungkinan ini bukan Rangga yang sama. Tapi, tidak menutup kemungkinan pula bahwa ini adalah Rangga yang sama.

Jika memikirkan kemungkinan buruk memang sangat menyakitkan. Jadi lebih baik berharap bahwa kemungkinan buruj itu tidak akan terjadi. Tapi setidaknya, dengan memikirkan kemungkinan terburuk, kita dapat mengantisipasi diri agar tidak terlalu jatuh saat mendapatkannya.

Sekarang aku tahu, jalan satu-satunya adalah mencari tahu siapa “Rangga” yang ada pada kontak hape Risa dan apa sebenarnya hubungan mereka. Tapi sepertinya tak mungkin Risa akan memberi tahuku. Mungkin aku harus mencarinya sendiri. Tapi bagaimana bisa? Melalui apa? Aku tidak dekat dengan Rangga, bahkan sekedar SMSan saja tak pernah. Apakah aku harus menunggu sampai jawaban itu datang sendiri? Tidak. Aku tidak akan menunggu, tapi aku harus mencarinya.

***

            Saat menuju ke mushola bersama, kebetulan sekali kami berpapasan dengan Rangga. Aku berusaha melihat gerak-gerik mereka. Tapi mereka tidak saling bertegur sapa atau apapun. Tidak ada yang mencurugaan sama sekali. Muncul sedikit kelegaan di hatiku. tapi tak mengubah apapun sebenarnya. Karena masih beanyak kemungkinan mereka tidak bertegur sapa walaupun saling mengenal. Mungkin saja karena mereka  yang tidak mau kedekatan mereka tercium oleh teman-teman. Mungkin saja mereka memang merahasiakanya dari teman-teman. Lagi-lagi  negative thinking  yang sangat-sangat mengganggu pikiranku. Memang aku berusaha untuk selalu memikirkan sesuatu yang mungkin membawa dampak yang buruk, ya agar aku bisa lebih meng-control diriku sendiri jika memang aku mendapatkan kemungkinan buruk itu. Tapi kemungkinan buruk yang aku pikirkan dangat-sangat mengganggu. Sampai-sampai tiap malam aku hannnya memikirkannya. Alu hanya memikirkan Rangga dan Risa, lalu itu menjsadi malas belajar. Bagaimana tidak, tiap kali belajar, aku tak dapat berkonsentrasi penuh. Jadi memang benar kata orang-orang selama ini, virus cinta itu berbahaya.

Aku tak bisa menghentikan ini semua. Tiap kali alu melihat Rangga, aku merasa sedih karena teringat SMS yang ada di hape Risa. Dan tiap kali aku bersama Risa, aku teringat Rangga. Apalagi ketika melihat Risa memegang hpe dan membalas SMS dengan senyum yang melihatkan bahwa ia sangat bahagia hari itu. Terlebih lagi, Risa belum menceritakan tentang siapa orangyang sering sekali membuatnya tersenyum sendiri itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk menjauh dari Risa dulu untuk sementara. Bukan bermaksud egois, tapi aku ingin menenangkan diri dulu. Lalu aku perlahan menghindar darinya berusaha untuk tidak ke kantin, ke mushola, atau pulang bersamanya lagi.

***

            “hey Na! Kok tiap pulang kamu nggak pernah nunggu aku sih sekarang?” tiba-tiba dai belakang Risa mengejarku dan sangat membuatku kaget.

“oh eh eh enggak kok, aku cuma buru-buru aja sekarang, jadi maaf ya kalau sering ninggal kamu.” Aku menjawab dengan gelagapan.

“jangan-jangan udah lupa sama aku ya kamu, huu. Apa jangan-jangan kamu baru punya pacar ya jadi keburu pulang terus ketemuan sama pacarmu itu.” Risa menggodaku dan kata pacar baru itu sangat menyakitkan mengingat dia yang punya gebetan baru dan sama sekali tidak menceritakannya kepada sahabatnya ini.

“enak aja, enggak ya. Kamu itu punya pacar nggak bilang-bilang sama aku. Siapa sih pacarmu itu?” tiba-tiba nadaku meninggi secara refleks.

Aku melihat air muka Risa langsung beerubah disana, seperti jadi sedih dan merasa bersalah.

“maaf ya Na, aku nggak pernah cerita selama ini. Iya, sebulan ini aku pedekate sama Rangga teman satu angkatan kita. Aku nggak tahu dia dapat nomor hapeku dari mana. Tapi dia tiba-tiba SMS aku dan dari situ kami kenal. Lama-kelamaan kami tambah dekat, dan tadi malam dia nembak aku lewat telepon. Aku kaget tapi jujur aku juga suka sama dia jadi aku terima. Aku nggak pernah bilang soalnya awalnya aku malu aja mau bilang, soalnya nggak ada yang istimewa menurutku dan aku takut kalau aku mungkin hanya kege-eran sama Rangga. Nggak papa kan Na? Hehe, nanti aku kasih peje deh Na. Jangan ngambek lagi ya Rena sayang” akhirnya Risa mengungkapkannya semua.

Aku tak bisa berkata apapun. Yang ada hanya perutku mulas, kepalaku pusing, rahangku tercekat, dan mataku panas setelah aku mendengar semuanya. Tanpa berkata apapun, aku meniggalkan Risa yang bingung melihatku. Aku berlari sekencang mungkin lalu segera mengmbil sepedaku dan mengayuhnya sekuat yang aku bisa. Dengan mata merah dan air mata yang aku tahan sekuat mungkin. Ternyata memang benar selama ini. Ternyata benar apa yang aku pikirkan dan apa yang aku bayangkan tentang Risa dan Rangga. akhirnya, aku mengetahui semua jawabannya. Mereka memang telah berpacaran. Aku akan berusaha tegar tanpa mengatakan tentang hatiku pada Risa. Aku tak mau membuatnya merasa bersalah kepadaku,lebih baik aku tetap memendamnya sendiri. Aku akan tetap menyayangi dan mengagumi Rangga seperti kemarin dan kemarinnya lagi, karena walaupun dia telah memiliki pacar, tapi aku yakin bahwa hubungan berpacaran tak mengikat atau melarang apapun bagi orang lain untuk tetap menukainya. Dan akhirnya, aku akan menyimpan ini semua tanpa mempermasalahkan apapun kepada siapapun, dan Rangga akan tetap menjadi anak laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.

######

Arin Anastasyah Sukma

X.4

6237

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s